Haidar Alwi: Wafat Yesus Kristus, Sejarah Pengorbanan dan Cermin Kemanusiaan Bangsa
.jpg)
Tokoh nasional sekaligus Presiden Haidar Alwi Care, Ir. R. Haidar Alwi, MT,
JAKARTA, MediaEkspresi.id – Peringatan wafatnya Yesus Kristus atau Jumat Agung yang jatuh pada Jumat, 3 April 2026, menjadi momentum refleksi mendalam bagi bangsa Indonesia. Tokoh nasional sekaligus Presiden Haidar Alwi Care, Ir. R. Haidar Alwi, MT, menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan cermin besar bagi kemanusiaan, keadilan, dan integritas bangsa.
Dalam ulasannya, Haidar Alwi menyoroti bagaimana sejarah mencatat wafatnya Yesus sebagai titik temu antara idealisme moral dan realitas kekuasaan. Menurutnya, ajaran kasih yang dibawa Yesus kala itu sering kali berbenturan dengan kepentingan otoritas, yang akhirnya berujung pada pengadilan dan hukuman mati.
"Peristiwa ini adalah peringatan bahwa dalam realitas kehidupan, kebenaran tidak selalu berjalan seiring dengan kekuasaan. Keputusan bisa saja tampak sah secara hukum, tetapi kehilangan ruh keadilan," ujar Haidar Alwi, yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB.
Pengorbanan Sebagai Fondasi Peradaban
Haidar menekankan bahwa esensi dari Jumat Agung adalah pengorbanan. Ia menilai bahwa peradaban yang kuat tidak dibangun dari zona nyaman, melainkan dari keberanian individu untuk menanggung risiko demi kepentingan yang lebih besar.
Ia mengkritik fenomena modern di mana nilai pengorbanan sering kali tergerus oleh kepentingan jangka pendek dan keuntungan sesaat. "Ketika pengorbanan kehilangan tempat, yang muncul bukan kemajuan, melainkan rapuhnya fondasi moral suatu bangsa," tambahnya.
Keadilan dan Integritas di Era Modern
Terkait aspek hukum, Haidar Alwi Institute (HAI) mencatat bahwa sejarah penyaliban Yesus memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana hukum dapat dimanipulasi oleh tekanan massa dan kepentingan politik. Hal ini, menurut Haidar, masih menjadi tantangan relevan dalam kehidupan berbangsa saat ini.
"Sistem yang ada hanya akan berjalan baik jika ditopang oleh integritas manusia di dalamnya. Kemanusiaan harus menjadi dasar setiap keputusan, bukan sekadar aturan formalitas," tegasnya.
Toleransi Sebagai Perekat Kebangsaan
Menutup refleksinya, Haidar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai sarana memperkuat toleransi. Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia membutuhkan kedewasaan dalam menjaga ruang hidup bersama.
Ia percaya bahwa menghormati ibadah umat lain dan menjaga ketenangan adalah langkah nyata dalam merawat keutuhan NKRI. "Keberagaman bukanlah ancaman selama empati dan nurani tetap dijaga. Kemanusiaan adalah titik temu di tengah perbedaan," pungkasnya.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap hari besar ini, Keluarga Besar Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute menyampaikan pesan persaudaraan:
"Selamat Memperingati Wafat Yesus Kristus 2026. Semoga nilai pengorbanan, keadilan, dan kemanusiaan senantiasa dihidupkan dalam setiap langkah kehidupan berbangsa."
Reporter: Nanang
Posting Komentar