Dinilai Asal-asalan Seperti 'Kue Geplak', Proyek Irigasi SS Kali Butek Senilai Rp43 Miliar Disorot Warga
.jpg)
Foto Kijaga Kali
BEKASI, MediaEkspresi.id — Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi SS Kali Butek yang melintasi empat desa di Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Pengerjaan proyek yang menelan anggaran puluhan miliar rupiah tersebut dinilai tidak maksimal dan diduga mengabaikan standar kualitas konstruksi.
Proyek infrastruktur ini membentang dari Kampung Pulo Glatik di Desa Sukaindah, hingga melintasi Desa Sindang Sari, Desa Sindang Jaya, dan Desa Jaya Bakti. Berdasarkan data yang dihimpun, proyek kedeputian Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum ini mengantongi nomor kontrak HK0201/B/Bbws5.10.2/2026/01 dengan nilai anggaran fantastis mencapai Rp43.058.448.000,00, yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Tirta Indo Karya.
Kualitas Material Dipertanyakan
Pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) pada jaringan irigasi ini memicu perbincangan hangat di kalangan warga sekitar. Masyarakat mulai mempertanyakan transparansi, kualitas material, hingga proses pengerjaan di lapangan yang menggunakan dana pemerintah tersebut.
Samanhudi, seorang warga yang akrab disapa "Kijaga Kali", melayangkan kritik keras terkait teknis pencampuran material semen dan pasir yang terkesan asal-asalan. Menurutnya, tekstur hasil adukan semen di lokasi proyek sangat rapuh dan tidak menyatu dengan baik.
"Semennya harus ditambah lagi, karena kondisi pasirnya jelek. Semennya harus ditambah, ini tidak menyatu, empuk kaya kue geplak. Ditambah atau semennya diganti," ujar Samanhudi saat memberikan keterangan pada Minggu (21/6/2026).
Ia menegaskan, pembangunan TPT memiliki fungsi vital sebagai penahan tanah sekaligus pelindung badan jalan dari ancaman longsor maupun gerusan air, terutama saat musim penghujan tiba. Jika kualitas pekerjaan terbukti tidak sesuai standar teknis konstruksi, warga khawatir bangunan tersebut tidak akan bertahan lama dan berpotensi mengalami kerusakan dini.
Desakan Pengawasan Ketat
Masyarakat berharap pihak pelaksana proyek tidak hanya fokus mengejar target waktu penyelesaian (deadline), melainkan harus tetap mengutamakan kualitas mutu bangunan. Selain itu, warga mendesak adanya pengawasan yang lebih ketat dari instansi terkait agar setiap tahapan pekerjaan benar-benar berjalan sesuai perencanaan dan regulasi konstruksi yang berlaku.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak kontraktor maupun instansi terkait mengenai keluhan warga atas kondisi pengerjaan proyek TPT yang dinilai kurang maksimal tersebut.
Reporter: Saimbar
Posting Komentar