Rawat Kearifan Lokal, Warga Desa Cikalong Cilamaya Wetan Gelar Tradisi Hajat Bumi
KARAWANG, MediaEkspresi.id – Masyarakat Desa Cikalong, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, kembali menggelar tradisi tahunan Hajat Bumi pada Minggu (19/7/2026). Ritual adat yang dipusatkan di Dusun Kampung Pintu ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas melimpahnya hasil panen, berkah keselamatan, serta nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini berlangsung khidmat sekaligus meriah. Sejak pagi hari, warga dari berbagai usia tampak berkumpul dengan membawa replika tumpeng serta beraneka hasil bumi seperti padi dan sayur-mayur, mencerminkan kekayaan agraris wilayah tersebut.
Kepala Desa Cikalong, H. Lili Hermanto, menegaskan bahwa pemerintah desa berkomitmen penuh untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi ini di tengah gempuran modernisasi. Menurutnya, Hajat Bumi bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan pondasi kultural masyarakat.
"Hajat Bumi ini adalah fondasi karakter warga kami. Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya bersyukur kepada Allah SWT atas hasil panen yang melimpah, tetapi juga menghidupkan kembali roh gotong royong yang perlahan mulai terkikis zaman. Kami ingin generasi muda Desa Cikalong tetap bangga dan merawat identitas budayanya," ujar H. Lili Hermanto di sela-sela acara.
Selain berfungsi sebagai ritual penghormatan terhadap alam, Hajat Bumi di Desa Cikalong ini juga terbukti efektif menjadi ruang kebersamaan yang mempererat tali silaturahmi serta memperkuat hubungan sosial antar warga.
Senada dengan Kepala Desa, perwakilan tokoh masyarakat setempat, yang sering disapa Abah (62), menyatakan bahwa tradisi ini memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam bagi warga Dusun Kampung Pintu.
"Bagi kami para orang tua dan perwakilan warga, Hajat Bumi adalah momen refleksi. Ini adalah ruang di mana sekat-sekat sosial hilang; kaya maupun miskin duduk bersama, makan bersama dari hasil bumi yang sama. Tradisi ini yang menjaga kampung kami tetap aman, rukun, dan berkah," ungkap Abah.
Acara yang berlangsung tertib ini kemudian dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, lalu ditutup dengan tradisi makan bersama atau kepungan. Antusiasme masyarakat yang tinggi menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih tertanam kuat di hati sanubari warga Karawang.
Reporter: Muhidin
.jpg)

Posting Komentar