Satu Tahun AMKI: Menjawab Tantangan Ekonomi Media di Era Konvergensi
JAKARTA, MediaEkspresi.id – Genap satu tahun perjalanan Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) menjadi fase krusial bagi organisasi ini untuk membuktikan eksistensinya. Bukan sekadar menambah daftar panjang perkumpulan media di Indonesia, AMKI hadir sebagai respons atas perubahan lanskap informasi yang kian dinamis.
Ketua Umum AMKI, Tundra Meliala, mengungkapkan bahwa sejak diinisiasi pada akhir Desember 2024, AMKI membaca pergeseran fundamental di mana media tidak lagi terbatas pada kotak-kotak konvensional. Batas antara media cetak, siber, televisi, platform digital, hingga kreator konten kini kian kabur.
"Konsep itulah yang menjadi fondasi AMKI, mendorong ekosistem media menuju era konvergensi," ujar Tundra dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Di tengah keberadaan berbagai organisasi pers yang telah lebih dahulu mapan, kehadiran AMKI sempat memicu pertanyaan publik mengenai urgensi dan nilai tambahnya bagi perusahaan media maupun pekerja jurnalistik.
Menjawab Tantangan Industri
AMKI hadir di tengah guncangan industri media global yang menghadapi tekanan berlapis. Perubahan pola konsumsi berita, pergeseran iklan ke platform digital, serta dominasi perusahaan teknologi global membuat model bisnis media konvensional kian rentan.
"Media harus berhadapan dengan dominasi platform teknologi global seperti Google, YouTube, TikTok, dan Meta dalam distribusi informasi dan perebutan iklan digital. Ketika arus uang iklan berpindah, perusahaan pers dipaksa mencari model bisnis baru agar tetap hidup," jelas Tundra.
Dalam konteks tersebut, AMKI memposisikan diri sebagai wadah yang berfokus pada sisi ekonomi media. Tidak hanya berkutat pada isu etika dan kebebasan pers, AMKI menekankan pentingnya keberlanjutan perusahaan media sebagai entitas bisnis di tengah kompetisi yang ketat.
Legitimasi dan Konsolidasi Daerah
Sejak resmi memiliki struktur pada Januari 2025 serta legalitas hukum di bulan Maret 2025, AMKI terus melakukan konsolidasi. Meski tidak memiliki figur dengan sejarah panjang layaknya organisasi pers senior, AMKI mencoba menutupnya dengan kecepatan pergerakan.
Hingga saat ini, AMKI telah berhasil membangun kepengurusan di 20 provinsi, dengan wilayah lain seperti Kalimantan dan Papua yang sedang dalam tahap penyempurnaan. Bagi AMKI, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan cabang di daerah memiliki program nyata yang dirasakan oleh anggota, khususnya media lokal yang paling rentan terhadap perubahan teknologi.
Ujian Independensi dan Regulasi
Sebagai organisasi baru, AMKI cukup aktif menjalin komunikasi dengan berbagai lembaga strategis, mulai dari Dewan Pers, kementerian terkait, hingga lembaga tinggi negara. Akses ini dipandang sebagai keuntungan sekaligus ujian bagi independensi AMKI dalam menjaga sikap kritis demi kepentingan ekosistem media.
Selain pemberdayaan anggota melalui akses teknologi dan pelatihan bisnis, AMKI kini mendorong pembahasan regulasi media konvergensi. Langkah konkret yang diambil termasuk inisiasi kerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk pelatihan dan pengujian kompetensi media konvergensi.
Memasuki tahun kedua, pekerjaan rumah utama bagi Tundra Meliala adalah membuktikan manfaat nyata organisasi. AMKI dituntut mampu menjadi katalisator bagi pengusaha media agar tetap relevan, sekaligus membuktikan bahwa organisasi ini mampu menjawab persoalan nyata di lapangan, bukan sekadar pelengkap di tengah badai perubahan teknologi.
• Pri
.jpg)
Posting Komentar