Intensitas Hujan Tinggi, Kawasan Perkotaan Pemalang Terkepung Banjir; Ratusan Kendaraan Mogok
PEMALANG, mediaekspresi.id – Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pemalang sejak Sabtu malam (31/1/2026) menyebabkan kawasan perkotaan dikepung banjir. Luapan air dengan ketinggian bervariasi antara 20 hingga 100 cm merendam pemukiman padat penduduk serta sejumlah ruas jalan protokol.
Berdasarkan pantauan di lapangan, wilayah terdampak paling parah meliputi Kelurahan Sugihwaras, Pelutan, Kebondalem, dan Kelurahan Mulyoharjo. Kondisi ini melumpuhkan akses transportasi dan aktivitas warga di pusat kota.
Ratusan Kendaraan Terjebak
Tingginya genangan air di jalan-jalan utama memaksa pengendara, khususnya roda dua, harus berjibaku menembus banjir. Ratusan sepeda motor dilaporkan mengalami mati mesin atau mogok setelah nekat menerjang genangan. Para pengendara terpaksa menuntun kendaraan mereka dengan ekstra hati-hati di tengah arus air.
Bahkan, kawasan Citywalk di Jalan Jenderal Sudirman yang baru saja diresmikan sebagai ikon wisata baru, tak luput dari terjangan air. Hujan yang turun sejak pukul 19.30 WIB tersebut dengan cepat menenggelamkan area yang digadang-gadang menjadi pusat keramaian kota tersebut.
"Beberapa titik seperti di depan SMA/SMK Muhammadiyah, Jalan Ahmad Yani, dan Kebondalem memang sudah menjadi langganan banjir setiap hujan lebat," ujar Sandy (40), warga Kelurahan Kebondalem, Sabtu malam.
Sorotan Terhadap Buruknya Drainase
Banjir yang terus berulang di kota berslogan "BERCAHAYA" ini kembali memicu kritik terkait infrastruktur drainase. Masalah ini sebelumnya sempat disoroti secara tajam oleh Anggota DPRD Pemalang, Heru Kundhimiarso.
Dalam Rapat Kerja Panitia Khusus (Pansus) II terkait RPJMD pada Juni 2025 lalu, Kundhi telah memperingatkan bahwa proyek perubahan wajah kota—termasuk pembangunan Citywalk—dinilai abai terhadap ancaman banjir jika tidak dibarengi dengan perbaikan sistem saluran air.
"Jangan sampai RPJMD hanya jadi dokumen indah yang tidak menyentuh persoalan nyata warga. Banjir di pusat kota terjadi karena lemahnya perencanaan sistem drainase. Saluran air yang sempit, dangkal, dan tidak terawat membuat air tidak mengalir lancar," tegas Kundhi, seperti dikutip media online.
Belum Ada Keterangan Resmi
Hingga berita ini diturunkan, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang maupun instansi terkait lainnya belum memberikan keterangan resmi mengenai total kerugian maupun langkah darurat yang diambil untuk menangani genangan di wilayah perkotaan.
Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil tindakan nyata, mengingat kondisi geografis Pemalang yang berada di dataran rendah memerlukan sistem drainase yang jauh lebih mumpuni agar bencana serupa tidak terus berulang.
Reporter: Ragil
Editor: Ata Priatna


Posting Komentar