Dukung Kesejahteraan Petani, Akademisi STIAPEN Apresiasi Ketegasan Bupati Nagan Raya Terkait Harga TBS

Dosen Ekonomi Bisnis Kontemporer Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Pelita Nusantara (STIAPEN) Nagan Raya, Edi Wanda, SE, MM
SUKA MAKMUE, mediaekspresi.id – Kebijakan tegas Penjabat (Pj) Bupati Nagan Raya, Fitriany Farhas (atau merujuk pada sapaan akrab TRK dalam konteks lokal), terkait standarisasi harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit dan penertiban Hak Guna Usaha (HGU) mendapat respon positif dari kalangan akademisi. Ketegasan ini dinilai sebagai langkah konkret pemerintah dalam melindungi hak-hak petani lokal.
Dosen Ekonomi Bisnis Kontemporer Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Pelita Nusantara (STIAPEN) Nagan Raya, Edi Wanda, SE, MM, menyatakan bahwa langkah pemerintah daerah tersebut merupakan bentuk kehadiran negara di tengah persoalan mendasar masyarakat.
Kepastian Harga dan Legalitas Lahan
Menurut Edi Wanda, persoalan utama yang selama ini menghantui perkebunan rakyat adalah fluktuasi harga TBS yang tidak menentu serta ketidakpastian status lahan.
"Kami menyambut baik ketegasan Bupati yang disampaikan dalam rapat bersama pengusaha Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan pemilik HGU beberapa waktu lalu. Hal ini memberikan kepastian bisnis, baik bagi petani maupun pengepul di pelosok Nagan Raya sebelum hasil panen dikirim ke pabrik," ujar Edi Wanda kepada media, Rabu (28/01).
Ia menambahkan, intervensi pemerintah sangat diperlukan agar harga di tingkat lapangan tidak dipermainkan, sehingga tercipta ekosistem usaha yang sehat dan pro-rakyat.
Mendorong Minat Milenial di Sektor Perkebunan
Lebih lanjut, Edi menekankan bahwa stabilitas industri sawit di Nagan Raya akan menjadi daya tarik bagi generasi muda atau kaum milenial di wilayah Barat Selatan Aceh untuk terjun berinvestasi di sektor perkebunan.
"Saat ini banyak generasi milenial yang berada pada posisi wait and see. Dengan adanya jaminan harga dan ketegasan regulasi dari Bupati, mereka akan terdorong untuk terlibat aktif secara profesional dalam bisnis sawit," jelasnya.
Dampak Ekonomi Makro
Keterlibatan aktif masyarakat dan generasi muda dalam pengelolaan sawit secara profesional diyakini akan membawa dampak luas bagi perekonomian daerah, di antaranya:
• Peningkatan Produksi: Tata kelola yang lebih baik akan meningkatkan hasil panen daerah.
• Menekan Inflasi: Sektor perkebunan yang stabil memperkuat daya beli masyarakat.
• Pengurangan Pengangguran: Terbukanya lapangan kerja baru di sektor hulu hingga hilir sawit.
"Ketegasan ini adalah kunci. Jika pemerintah terus konsisten hadir dalam suka dan duka petani, maka kemajuan perkebunan rakyat bukan lagi sekadar impian, melainkan fondasi ekonomi yang kokoh bagi Nagan Raya," pungkas Edi.
Reporter: Sofyan
Editor: Ata Priatna
Posting Komentar