Hamzanwadi: Tuan Guru yang Mendedikasikan Hidup dalam Ilmu dan Perjuangan
.jpg)
Sanusi (Mahasiswa IAI Hamzanwadi Pancor)
PANCOR, MediaEkspresi.id — Figur Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Kyai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid—atau yang akrab disapa Maulana Syaikh/Hamzanwadi—terus dikenang sebagai sosok pendidik dan pembaru yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu, pendidikan, serta kemanusiaan. Perjuangan beliau melintasi zaman dan menjadi pondasi penting dalam sejarah pendidikan Islam serta pergerakan kebangsaan di Indonesia, 7 Agustus 2026.
Melalui ulasan yang ditulis oleh Sanusi, seorang mahasiswa IAI Hamzanwadi Pancor, rekam jejak perjuangan Hamzanwadi ditegaskan kembali sebagai warisan nilai dan pemikiran yang tidak pernah padam, meski sang ulama telah tutup usia.
Perjalanan Hidup dan Latar Belakang Perjuangan
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid lahir di Bermi, Pancor, Lombok Timur, pada 17 Rabiul Awal 1324 H (1906 M). Lahir di era kolonial, beliau tumbuh dalam situasi masyarakat yang dihadapkan pada keterbatasan akses pendidikan dan keterbelakangan ilmu pengetahuan.
Melihat kondisi sosial tersebut, Hamzanwadi menaruh fokus perjuangannya pada sektor pendidikan. Setelah menuntut ilmu di Makkah dan memperdalam berbagai disiplin keilmuan Islam—seperti fikih, tafsir, hadis, dan bahasa Arab—beliau memilih kembali ke tanah kelahirannya di Lombok untuk menjalankan misi sosial-keagamaan.
Pelopor Pembaruan Pendidikan dan Kesetaraan Gender
Langkah konkrit pembaruan pendidikan Islam di Lombok ditandai dengan pendirian Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada tahun 1934. Lembaga ini menjadi tonggak awal gerakan kebangkitan pendidikan bagi anak-anak di pedesaan.
Tidak berhenti di situ, pada tahun 1943 Hamzanwadi mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI). Pendirian NBDI menjadi terobosan penting pada zamannya, mengingat akses pendidikan formal bagi kaum perempuan saat itu masih sangat terbatas. Melalui langkah ini, beliau menanamkan pandangan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam mendidik generasi penerus dan memajukan bangsa.
Selanjutnya, pada tahun 1953, beliau mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sebagai wadah perjuangan yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.
Visi Kebangsaan dan Karya Literasi
Perjuangan Hamzanwadi dinilai memiliki dua dimensi utama: membangun kesadaran spiritual dan mendorong kemartabatan sosial. Beliau mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan semangat nasionalisme, memandang bahwa mengisi kemerdekaan harus dilakukan melalui pencerdasan kehidupan bangsa dan pembentukan karakter akhlak.
Selain sebagai ulama dan pendidik, Hamzanwadi juga meninggalkan warisan literasi melalui karya tulis dan syair. Salah satu karyanya yang monumental adalah Wasiat Renungan Masa, yang memuat pesan-pesan moral mengenai pentingnya ilmu, persatuan, perjuangan, serta pengabdian.
Relevansi Warisan Pemikiran
Meskipun zaman dan tantangan telah berubah dengan cepatnya perkembangan teknologi serta informasi, nilai-nilai, karakter, dan keteladanan yang diwariskan oleh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dinilai tetap relevan bagi generasi muda saat ini.
"Seorang guru sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir dalam ilmu yang diwariskan, tetap hidup dalam kebaikan yang dilakukan, dan tetap berjalan dalam langkah para murid yang meneruskan perjuangannya."
• Penulis: Sanusi (Mahasiswa IAI Hamzanwadi Pancor)
Posting Komentar