Sebut ''Media Butuh Duit'', Pernyataan Oknum Pengawas Korwilcambidik Tirtajaya Tuai Kecaman
KARAWANG, MediaEkspresi.id – Penyelenggaraan Invitasi Olahraga Tradisional tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kecamatan Tirtajaya yang digelar di Lapangan Bola Medankarya, Senin (12/5/2026), berbuntut panjang. Bukan soal prestasi, ajang ini justru memicu polemik akibat pernyataan kontroversial dari oknum pejabat pendidikan setempat.
Persoalan bermula saat sejumlah awak media mendatangi Kantor Korwilcambidik Kecamatan Tirtajaya pada Rabu (13/5/2026). Kedatangan mereka bertujuan untuk mengklarifikasi laporan mengenai adanya sejumlah siswa yang diduga jatuh pingsan saat perlombaan berlangsung.
Namun, dalam pertemuan tersebut, seorang oknum Pengawas Korwilcambidik berinisial MY melontarkan pernyataan yang dinilai merendahkan profesi jurnalis.
“Ya kalau media melakukan konfirmasi dan mencari informasi silakan, itu sah-sah saja, karena memang itu sudah tugasnya. Tapi, pada kenyataannya media itu butuh duit,” ujar MY di hadapan wartawan.
Generalisasi Profesi dan Pelecehan Jurnalistik
Pernyataan tersebut langsung memantik reaksi keras dari berbagai organisasi media. MY dinilai telah melakukan generalisasi terhadap seluruh insan pers karena tidak menyebut kata “oknum”, melainkan merujuk pada institusi media secara keseluruhan.
Ketua Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI), Endang Nupo, mengecam keras ucapan tersebut. Menurutnya, statemen MY merupakan bentuk pencemaran nama baik terhadap profesi yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
“Pernyataan itu sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat di lingkungan pendidikan. Kalimat ‘media itu butuh duit’ merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan menyudutkan profesi wartawan secara keseluruhan,” tegas Endang dalam keterangannya.
Endang menambahkan bahwa wartawan bekerja menjalankan fungsi kontrol sosial dengan berpegang pada Kode Etik Jurnalistik, bukan semata-mata mengejar materi.
“Kalau ada oknum, sebut oknum. Pers adalah pilar demokrasi. Tanpa media, publik tidak akan tahu apa yang terjadi di lapangan, termasuk soal dugaan siswa pingsan dalam kegiatan tersebut,” lanjutnya.
Desakan Tindakan Tegas BKPSDM
Sikap MY dianggap ironis lantaran muncul saat wartawan sedang menggali fakta mengenai keselamatan siswa dalam kegiatan resmi kecamatan. Alih-alih memberikan klarifikasi substantif mengenai kondisi kesehatan para peserta didik dan kesiapan panitia, pihak Korwilcambidik justru memperkeruh suasana dengan serangan personal terhadap profesi media.
Menyikapi hal ini, sejumlah pihak mendesak:
• BKPSDM Kabupaten Karawang untuk segera mengambil langkah tegas dan memberikan pembinaan terhadap MY.
• Permintaan maaf secara terbuka dari yang bersangkutan kepada insan pers untuk menjaga hubungan harmonis antara institusi pendidikan dan media.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Korwilcambidik Tirtajaya belum memberikan keterangan tambahan terkait tuntutan permintaan maaf tersebut. Pers sebagai mitra kritis pemerintah berharap kejadian ini menjadi pelajaran agar pejabat publik lebih bijak dalam berkomunikasi dan menghormati transparansi informasi.
• Pri
.jpg)
Posting Komentar