GPS Bersatu Desak Pemerintah Periksa Sistem Sanitasi Dapur MBG di PTC
LOMBOK TIMUR, MediaEkspresi.id — Aroma tidak sedap yang menyengat di kawasan Kompleks Perkantoran dan Pertokoan Pancor (PTC), Kabupaten Lombok Timur, mulai menuai keluhan serius dari masyarakat. Bau busuk tersebut diduga kuat berasal dari limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola diduga oleh Yayasan Maju Bersama.
Sejumlah pengguna jalan, pedagang, dan pengunjung PTC mengaku sangat terganggu dengan bau yang muncul setiap hari tersebut. Berdasarkan penelusuran warga, sumber aroma menyengat itu mengarah pada aktivitas dapur MBG yang beroperasi di area pertokoan milik pemerintah daerah, setelah sebelumnya sempat dikira berasal dari saluran pasar tradisional.
"Bau busuk ini dari dapur MBG yang di PTC. Kami sangat terganggu, bahkan pusing karena baunya menyengat," ujar salah seorang pengunjung yang tokonya berdekatan dengan lokasi dapur tersebut.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh para pengguna jalan yang melintas. Menurut mereka, bau paling menyengat dirasakan pada pagi hari dan kondisinya semakin parah saat hujan turun.
Diduga Mengabaikan Sistem IPAL
Merespons keluhan tersebut, Ketua Gerakan Pemuda Sasak Bersatu (GPS Bersatu), Zaeny Hasyari, menilai persoalan ini harus segera mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Ia menduga sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada dapur MBG tersebut belum memenuhi standar sanitasi untuk operasional skala besar.
"Sering saya lewat kerja pagi setelah subuh, baunya menyengat sekali di sekitar dapur itu," kata Zaeny saat dikonfirmasi pada Minggu (24/5/2026).
Zaeny menilai pihak pengelola dapur terlalu fokus pada target produksi dan distribusi makanan, namun mengabaikan sistem pengelolaan limbah. Akibatnya, limbah cair diduga langsung dialirkan ke selokan dan saluran irigasi hingga memicu bau busuk.
Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan sudah menyangkut ancaman kesehatan publik dan potensi pencemaran lingkungan yang fatal. Limbah organik yang tidak dikelola dengan benar dapat menjadi sarang bakteri, memicu penularan penyakit, serta merusak kualitas tanah dan saluran irigasi pertanian warga sekitar.
"Kalau sanitasi diabaikan, maka dapur gizi bisa berubah menjadi dapur racun. Program sosial tidak boleh dijalankan dengan cara menciptakan penderitaan baru bagi masyarakat sekitar," tegas Zaeny.
Lemahnya Pengawasan Dinas LHK
Lebih lanjut, GPS Bersatu menyayangkan lemahnya pengawasan dari instansi terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Kabupaten Lombok Timur. Hingga saat ini, warga mengaku belum melihat adanya tindakan tegas atau evaluasi di lapangan, padahal lokasi dapur berada di aset milik pemerintah daerah.
"Apakah Dinas LHK sudah pernah turun dan memberi arahan? Karena awalnya kami kira ini limbah pasar, ternyata setelah ada dapur MBG, bau busuk justru makin terasa setiap hujan turun," tambah Zaeny.
Atas dasar kondisi tersebut, GPS Bersatu mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) dan pemerintah daerah untuk segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sistem sanitasi dapur MBG di PTC.
Jika tidak ada tindakan konkret, GPS Bersatu menyatakan siap menggelar hearing (dengar pendapat) resmi guna meminta pertanggungjawaban pengelola dapur, sekaligus mendorong evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional pengolahan limbah program tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Yayasan Maju Bersama maupun Dinas LHK Lombok Timur belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan kebocoran limbah tersebut.
Reporter: Sanusi
.jpg)
Posting Komentar