Dinilai Terburu-buru, Alumni Sesalkan Sikap IPMB yang Tolak Investasi di Beutong Ateuh
NAGAN RAYA, MediaEkspresi.id – Sejumlah alumni Ikatan Pelajar Mahasiswa Kecamatan Beutong (IPMB) Kabupaten Nagan Raya menyatakan kekecewaannya terhadap sikap pengurus organisasi yang secara terbuka menolak rencana investasi pertambangan di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Sikap sepihak tersebut dikhawatirkan dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat.
Mantan Ketua IPMB, Defri Zulfikar, menyayangkan pernyataan Ketua IPMB terpilih yang langsung mengambil posisi menolak tanpa adanya kajian mendalam dan menyeluruh terkait konsep investasi yang akan masuk. Menurutnya, keputusan yang berdampak pada hajat hidup orang banyak semestinya dirumuskan secara bijaksana.
"Seharusnya seorang ketua organisasi meminta pendapat dari segenap pihak, termasuk para alumni dan tokoh masyarakat, jangan hanya mendengar masukan dari segelintir pihak saja," ujar Defri.
Potensi Konflik Horizontal
Defri menilai, klaim penolakan yang dikeluarkan tanpa konsensus berpotensi memicu pro dan kontra yang tidak sehat di akar rumput. Jika tidak disikapi dengan kepala dingin, kondisi ini dikhawatirkan dapat berujung pada perselisihan antar warga.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya melihat investasi secara objektif. Masuknya modal ke daerah, menurut Defri, harus ditimbang dari berbagai sisi, mulai dari: Potensi pertumbuhan ekonomi daerah, Pembukaan lapangan kerja baru bagi putra daerah dan Peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum
Meski mendukung iklim investasi, Defri menggarisbawahi bahwa aspek kelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat adat tetap wajib menjadi prioritas yang dikawal ketat.
Dorong Dialog Konstruktif
Defri mengingatkan bahwa dampak dari dinamika investasi di Beutong Ateuh Banggalang tidak hanya berimbas pada masyarakat lokal, melainkan juga berpengaruh terhadap iklim investasi Kabupaten Nagan Raya secara keseluruhan.
Oleh karena itu, ia berharap organisasi mahasiswa dapat kembali ke marwahnya sebagai wadah intelektual yang mengedepankan dialog ketimbang narasi yang konfrontatif.
"Semua pihak harus mampu menjaga suasana yang kondusif. Kita butuh ruang diskusi intelektual yang objektif dan konstruktif, bukan justru memperkeruh keadaan dengan pernyataan yang berpotensi memecah belah," pungkasnya.
Reporter: Sofyan
.jpg)
Posting Komentar