Sawah Terendam Banjir Dua Kali, Petani Sukaringin Desak Pembangunan Pintu Air Kali Piket

Foto : Pintu air kali piket waktu banjir
BEKASI, MediaEkspresi.id – Intensitas curah hujan yang tinggi kembali membawa duka bagi sektor pertanian di Kabupaten Bekasi. Ratusan hektar areal persawahan di dua desa, yakni Desa Sukaringin dan Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, terendam banjir akibat luapan Kali Piket pada Senin (23/02/2026).
Kondisi ini merupakan kali kedua dalam musim tanam ini para petani harus menghadapi gagal tanam akibat luapan air yang tak terkendali.
Infrastruktur Pintu Air Jadi Biang Keladi
Berdasarkan pantauan di lapangan, penyebab utama banjir di wilayah tersebut diduga kuat berasal dari kondisi Pintu Air Kali Piket yang sudah tidak berfungsi optimal. Warga setempat mengungkapkan bahwa kerusakan infrastruktur ini menjadi ancaman permanen, baik di musim hujan maupun kemarau.
![]() |
| Foto : pintu air kali piket waktu kemarau |
"Pintu air ini penyebab utama banjir. Kalau musim hujan air meluap ke sawah, dan kalau kemarau tidak bisa menampung air karena daun pintunya banyak yang rusak atau jebol. Bahkan saat air laut pasang, air asin masuk karena tidak terbendung, membuat tanaman padi mati total," ujar salah seorang warga terdampak.
Harapan Petani pada Pemerintah Daerah
Para petani kini menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Bekasi, khususnya Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (DSDABMBK), untuk segera melakukan langkah konkret. Perbaikan atau pembangunan ulang pintu air dianggap sebagai harga mati demi menyelamatkan mata pencaharian warga.
Beberapa poin tuntutan petani antara lain:
• Rehabilitasi Total: Mengingat pintu air sudah bertahun-tahun tidak mendapatkan perbaikan secara menyeluruh.
• Evaluasi Ketahanan Pangan: Meminta dinas terkait turun ke lapangan untuk mengevaluasi dampak gagal panen terhadap ketersediaan pangan di wilayah tersebut.
• Solusi Permanen: Pembangunan infrastruktur yang mampu membendung air laut saat pasang agar tidak merusak ekosistem sawah.
"Kami berharap Dinas terkait segera mengevaluasi keluh kesah kami. Ini bukan sekadar urusan air, tapi demi keberlangsungan hidup petani dan ketahanan pangan daerah," tutup warga tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, para petani masih berupaya menyelamatkan sisa-sisa tanaman padi yang memungkinkan, sembari menunggu respon resmi dari pihak otoritas terkait.
Reporter: AL

Posting Komentar