Jelang Bulan Ramadhan, Aksi Gotong Royong Massal Bersihkan TPU
Pedamaran (OKI), MediaEkspresi.id – Aksi gotong royong massal yang membersihkan Taman Pemakaman Umum (TPU) Pedamaran 2 pada Minggu (15/02/2026) menuai apresiasi. Namun, di balik semangat kebersamaan yang ditonjolkan, muncul pertanyaan kritis dari sebagian warga: mengapa semangat gotong royong ini seolah baru “menggema” saat masyarakat ramai-ramai bersiap untuk berziarah jelang bulan suci Ramadhan?
Kegiatan yang melibatkan lebih dari 350 orang, termasuk perantau dari Bandung hingga luar Sumatera ini, sukses mengubah wajah TPU yang semula terabaikan menjadi lebih bersih dan rapi. Inisiatif Kepala Desa Azwar Anas memang patut diacungi jempol. Namun, jika ditelisik lebih dalam, momentum pembersihan ini secara tidak langsung menyoroti ironi perawatan fasilitas umum.
Layanan Dasar vs Gelombang Kesadaran Musiman
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya melontarkan pandangan berbeda. “Bagus sih ada gotong royong, tapi jadi terlihat kalau TPU itu memang kurang terawat selama ini. Kok baru dibersihkan massal sekarang, menjelang Ramadhan? Padahal, pemeliharaan makam seharusnya jadi layanan rutin, bukan acara insidental yang baru ramai pas mau Lebaran atau puasa,” ujarnya.
Pernyataan ini membuka sudut pandang lain: apakah gotong royong ini lahir dari kebutuhan mendesak akan tempat ibadah (dalam konteks ziarah) yang layak, atau justru menyembunyikan fakta bahwa pemeliharaan berkala oleh instansi terkait masih lemah? Kehadiran ratusan warga lintas wilayah, termasuk perantau yang pulang, menjadi “bonus” demografis yang mengubah kerja bakti menjadi ajang reuni akbar.
Simbol Penghormatan atau ‘Sekadar’ Persiapan Ziarah?
Kepala Desa Azwar Anas menyebut kegiatan ini bertujuan mengembalikan makna TPU sebagai ruang penghormatan bagi almarhum. Namun, dalam konteks kalender, warga pasti memiliki urgensi lebih praktis: menyambut Ramadhan dengan berziarah ke makam leluhur, sebuah tradisi yang mengakar kuat di Nusantara.
“Ini bagus untuk silaturahmi, apalagi banyak perantau yang pulang. Tapi, jangan sampai semangat gotong royong ini hanya menjadi ‘seasonal hype’ (gejala musiman). Setelah Ramadhan usai, jangan sampai TPU kembali terbengkalai karena ‘kan tidak ada lagi momen ziarah massal,” ujar Rudi Wijaya, salah satu perantau yang sempat diwawancarai, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati.
Antara Inisiatif Warga dan Tanggung Jawab Pemerintah
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kepedulian warga, terutama para perantau, terhadap kampung halaman masih sangat tinggi. Namun, keberhasilan acara ini juga menjadi cermin bagi pemerintah desa. Jika pembersihan rutin dilakukan, seharusnya tidak perlu gelaran besar yang menguras energi lintas wilayah hanya untuk membuat TPU tampak layak.
Ke depan, tantangan bagi Kepala Desa Azwar Anas bukan hanya menciptakan gerakan sporadis, tetapi bagaimana memastikan kebersihan dan kehormatan TPU sebagai ruang publik dapat terjaga secara berkelanjutan. Apakah gotong royong berikutnya akan kembali dilakukan saat Idul Fitri mendatang, atau justru menjadi pemicu bagi pengalokasian dana desa untuk perawatan rutin?
Semangat gotong royong tetaplah modal sosial yang mahal. Namun, memaknainya hanya sebagai respons terhadap kebutuhan musiman sama saja dengan mereduksi nilai luhur tersebut menjadi sekadar alat untuk menutupi kelangkaan layanan dasar. Masyarakat berharap, setelah Ramadhan berlalu, semangat kebersihan dan penghormatan terhadap TPU tidak ikut “pulang kampung” bersama para perantau.
Reporter: S.Nasution

Posting Komentar