Dari Produksi ke Transformasi: Kebangkitan Sektor Kelautan dan Perikanan NTB di Tahun Pertama Iqbal–Dinda
MATARAM, MediaEkspresi.id – Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah baru bagi sektor kelautan dan perikanan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di bawah kepemimpinan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur, Iqbal–Dinda, sektor ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai penyedia komoditas primer, melainkan mulai bertransformasi menjadi pilar industri agrokemaritiman yang tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan.
Tahun pertama ini menjadi fase krusial. Selain menandai awal implementasi RPJMD 2025–2029, periode ini merupakan momentum konsolidasi struktur produksi yang dibarengi dengan akselerasi kesejahteraan pelaku usaha serta integrasi aspek ekologi.
Lonjakan Produksi: Melampaui Target, Memperkuat Struktur
Berdasarkan data tahun 2025, total produksi perikanan NTB terealisasi sebesar 1.252.719,60 ton. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus melampaui target yang telah ditetapkan.
• Perikanan Budidaya: Mencapai 997.210,64 ton (naik 1,66% yoy). Meski tumbuh moderat, angka yang mendekati satu juta ton ini menunjukkan stabilitas pada komoditas unggulan seperti udang dan rumput laut.
• Perikanan Tangkap: Terealisasi sebesar 255.508,96 ton (tumbuh 2,79% yoy). Kenaikan ini mencerminkan optimalisasi sarana penangkapan ikan yang tetap memperhatikan koridor keberlanjutan sumber daya laut.
Kesejahteraan Nelayan di Tren Positif
Indikator keberhasilan pembangunan sektor ini tercermin nyata pada Nilai Tukar Perikanan (NTP). Pada tahun 2025, NTP tercatat berada di angka 106,82, meningkat 1,23 poin dari tahun 2024.
Kenaikan ini menjadi bukti bahwa pendapatan yang diterima nelayan dan pembudidaya tumbuh lebih progresif dibandingkan biaya produksi dan konsumsi mereka. Hal ini mengonfirmasi bahwa pertumbuhan ekonomi di sektor kelautan NTB berdampak langsung pada perbaikan margin usaha masyarakat pesisir.
Harmonisasi Ekonomi dan Ekologi
Di tengah genjotan produksi, aspek keberlanjutan tetap menjadi prioritas. Luas ekosistem perairan laut dengan status "Baik" tercatat mencapai 14.528 hektare, meningkat signifikan berkat pengelolaan 12 kawasan konservasi perairan melalui tiga BLUD Balai Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan.
Transformasi ini diperkuat secara legal melalui penetapan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi NTB Nomor 14 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan. Regulasi ini mempertegas kewenangan provinsi hingga 12 mil laut serta memperketat sistem perizinan berbasis risiko dan pengawasan.
Hilirisasi: Menciptakan Nilai Tambah di Daerah
Strategi "Iqbal–Dinda" untuk menggeser ekonomi dari bahan baku ke produk olahan mulai membuahkan hasil:
• Industri Garam: Beroperasinya pabrik garam di Kabupaten Bima telah menciptakan rantai nilai baru, mengurangi ketergantungan pasokan luar daerah, dan menyerap tenaga kerja lokal.
• Industri Udang: Pemerintah daerah telah merampungkan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan pabrik pengolahan udang terintegrasi. Langkah ini didukung penuh dengan insentif fiskal dan fasilitasi perizinan untuk menarik investasi nyata.
Menuju Titik Balik
Secara komprehensif, performa sektor kelautan NTB di tahun 2025 menunjukkan tren positif di seluruh lini. Jika tahun-tahun sebelumnya adalah fase stabilisasi, maka tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda adalah titik balik (turning point).
NTB kini bergerak mantap dari sekadar mengejar kuantitas menuju transformasi tata kelola industri agrokemaritiman yang modern. Fondasi yang diletakkan pada tahun 2025 diharapkan menjadi katalisator bagi terwujudnya NTB sebagai pusat perikanan nasional yang berkelanjutan di masa depan.
Reporter: Ahyarrosidi
.jpg)
Posting Komentar