Maraknya Aksi Perang Mercon di Lombok Tengah, Alarm NTB Desak Polisi Bentuk Tim Khusus
.jpg)
Sekretaris Alarm NTB, Ahmad Zamharir
LOMBOK TENGAH, MediaEkspresi.id – Fenomena perang mercon yang kian marak di sejumlah titik di Kabupaten Lombok Tengah memicu kekhawatiran publik. Aliansi Rakyat Lombok (Alarm) NTB secara resmi meminta aparat kepolisian untuk segera turun tangan guna mencegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), terutama menjelang bulan suci Ramadan.
Sekretaris Alarm NTB, Ahmad Zamharir—yang populer disapa Bung Petir—menegaskan bahwa Kapolres Lombok Tengah harus mengambil langkah konkret dan tidak meremehkan aktivitas musiman ini. Menurutnya, perang mercon bukan sekadar kebisingan biasa, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Potensi Konflik dan Bahaya Kebakaran
Bung Petir menjelaskan bahwa aktivitas ini memiliki efek domino negatif yang luas, mulai dari gangguan ketenangan ibadah hingga risiko fisik.
• Pemicu Bentrokan: Seringkali menjadi pemantik tawuran antar kelompok pemuda.
• Bahaya Fisik: Risiko kebakaran lahan atau bangunan serta cedera serius pada pelaku dan warga sekitar.
• Ganguan Umum: Ketidaknyamanan bagi lansia, balita, dan masyarakat yang membutuhkan ketenangan.
“Kapolres Lombok Tengah perlu segera membentuk tim khusus penanganan perang mercon di desa-desa yang rawan. Kegiatan ini tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga sangat berpotensi memicu tawuran antar pemuda,” ujar Bung Petir, Minggu (15/3).
Soroti Lemahnya Pengawasan Peredaran
Selain aksi di lapangan, Alarm NTB juga mengkritik bebasnya penjualan petasan di pinggir jalan utama. Bung Petir menilai, hingga saat ini belum terlihat adanya tindakan preventif yang signifikan dari aparat penegak hukum (APH) untuk menekan suplai mercon di pasar.
“Sampai sejauh ini kami belum melihat keseriusan aparat dalam melakukan pencegahan. Penjual mercon masih banyak berjejer di pinggir jalan, seolah tidak ada pengawasan,” cetusnya.
Salah satu lokasi yang menjadi sorotan tajam adalah Desa Pengenjek, Kecamatan Jonggat. Wilayah ini disebut sebagai titik langganan perang mercon tahunan yang sangat meresahkan pengguna jalan yang melintas.
Desakan Tindakan Tegas
Alarm NTB menegaskan bahwa keamanan wilayah adalah tanggung jawab utama aparat. Pembiaran terhadap fenomena ini dianggap sebagai kegagalan dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, lalu di mana peran aparat dalam memberikan perlindungan? Kami mendesak kepolisian untuk lebih serius menjaga kondusivitas, apalagi saat masyarakat ingin beribadah dengan tenang,” tutup Bung Petir.
Diharapkan dengan adanya tim khusus dan pengawasan ketat, potensi konflik horizontal maupun kecelakaan akibat petasan dapat diminimalisir sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas Ramadan dengan khidmat dan aman.
Reporter: MR
Posting Komentar