Waktu Kita Bersama: Menantang Belantara, Menempa Mental di Jantung Papua Tengah
Ekspresi TIMIKA – Bagi sebagian orang, perjalanan antar-kabupaten mungkin hanya sekadar duduk manis di dalam kabin pesawat atau kendaraan roda empat. Namun, bagi empat pemuda putra daerah Papua, perjalanan dari Kabupaten Paniai menuju Kabupaten Mimika adalah sebuah ritual pendewasaan, latihan fisik, sekaligus pembuktian ketangguhan mental di tengah ganasnya alam bumi Cenderawasih.
Empat pemuda tersebut—Jhon Gipedi, Melianus Muyapa, Fredi Tenouye, dan Agus Kudiai—memutuskan untuk menempuh jalur darat dengan berjalan kaki melintasi hutan belantara, gunung, hingga lembah curam pada awal Januari 2026.
Misi Menempa Diri
Keputusan untuk berjalan kaki bukanlah tanpa alasan. Selain karena kendala infrastruktur jalan yang sering terputus akibat longsor dan banjir, keempatnya memiliki misi pribadi.
"Kami ingin menambah pengalaman baru, melatih kemampuan jiwa dan fisik untuk perjalanan jarak jauh," ungkap salah satu dari mereka. Perjalanan ini juga menjadi ajang "detoksifikasi" fisik setelah masa libur Natal yang penuh dengan jamuan makanan di kampung halaman.
Persiapan dan Keberangkatan
Persiapan dilakukan secara saksama meski dalam waktu singkat. Dengan modal swadaya sebesar Rp1.000.000, mereka menyiapkan perlengkapan esensial: makanan ringan, air mineral, jas hujan, hingga sepatu yang mumpuni.
Titik kumpul dimulai di Kota Enarotali, Paniai. Mengingat jadwal sekolah yang sudah dekat, mereka harus bergerak cepat. Tepat pukul 04.00 WIT, sebuah mobil pengantar membawa mereka menuju "ujung jalan" aspal, titik terakhir peradaban sebelum masuk ke jantung hutan.
Doa di Gerbang Rimba
Tiba di batas jalan pada pukul 08.00 WIT, suasana berubah sunyi. Sebelum melangkah masuk ke hutan belantara yang tak terjamah sinyal komunikasi, mereka berhenti sejenak. Melianus Muyapa, seorang lulusan sekolah teologi STP di Kebo II Paniai, memimpin doa keberangkatan.
"Doa adalah simbol komunikasi kami kepada Tuhan agar diberi kelancaran dan keselamatan hingga tujuan," tutur Melianus.
Selama sehari semalam, keempat pemuda ini bergulat dengan medan Papua Tengah yang legendaris: Gunung Botak yang gersang, hutan lebat dengan pepohonan raksasa, hingga sungai-sungai yang bisa meluap kapan saja. Di sana, mereka terisolasi dari dunia luar. Tidak ada sinyal ponsel, hanya ada kebersamaan dan tekad untuk sampai.
Titik Terang di Gunung Botak
Perjuangan fisik mulai terbayar saat mereka mencapai kawasan Gunung Botak. Setelah melintasi satu kilometer dari puncak, sebuah pemandangan yang ditunggu muncul: sinyal komunikasi kembali tertangkap. Ponsel milik Melianus berdering, memecah kesunyian hutan.
Di ujung telepon, seorang kerabat memastikan posisi mereka. Dengan bantuan komunikasi tersebut, mereka berhasil mengatur titik jemput di ujung "jalan kasar" yang sedang dalam tahap pembangunan.
"Kaka bangga kalian punya kaki yang kuat bisa sampai ke sini," ujar sopir yang menjemput mereka, kagum melihat ketangguhan keempat pemuda tersebut yang berhasil menaklukkan medan berat yang bahkan sulit dilalui kendaraan.
Kembali ke Kota
Setelah menempuh perjalanan darat selama lima jam dari titik jemput, keempatnya akhirnya tiba di Kota Timika pada pukul 18.00 WIT. Wajah lelah mereka tertutup oleh senyum kepuasan.
Perjalanan ini bukan hanya sekadar berpindah tempat dari Paniai ke Timika, melainkan sebuah jejak yang mereka tinggalkan di belantara Papua Tengah—sebuah bukti bahwa bagi putra daerah, alam bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dicintai dan ditaklukkan melalui keberanian serta doa.
Penulis: Jhon Gipedi Nawipa
Editor: Ata Priatna


Posting Komentar