Kontroversi Hari Jadi Pemalang: Benarkah 24 Januari 1575 Awal Berdirinya Kota
Ekspresi PEMALANG – Menjelang peringatan Hari Jadi Kota Pemalang ke-451 yang jatuh pada 24 Januari, pertanyaan lama kembali mencuat di tengah masyarakat Kota berjuluk Puseré Jawa itu. Benarkah tanggal 24 Januari 1575 merupakan hari berdirinya Kota Pemalang?
Keraguan tersebut disampaikan oleh Rabadi (67), pemerhati sejarah dan sosial asal Pegatungan, Pemalang, yang juga dikenal sebagai politisi senior dari salah satu partai besar. Saat ditemui awak media di sela waktu istirahatnya di Kantor DPRD Kabupaten Pemalang, Rabadi mempersilakan media untuk mengulas ulang dasar penetapan hari jadi kota tersebut.
Menurut Rabadi, sebuah peristiwa sejarah tidak bisa ditetapkan begitu saja tanpa landasan yang kuat.
“Untuk bisa disebut sebagai sejarah, harus ada syarat-syaratnya. Minimal ada bukti pelaku, atau jika tidak, ada referensi kuat dari sejarawan. Sejarah itu harus ditopang bukti otentik. Kalau tidak, itu hanya cerita rakyat atau legenda,” ujarnya, Jumat (16/1).
Rabadi mengungkapkan bahwa penetapan 24 Januari 1575 sejatinya lebih tepat disebut sebagai hasil kesepakatan, bukan berdasarkan bukti sejarah yang benar-benar kuat.
“Ada yang mengatakan 24 Januari 1575 itu bukan hari jadi, melainkan hari kesepakatan. Dan itu tidak sepenuhnya salah,” jelasnya.
Ia menambahkan, kesepakatan tersebut diambil karena lemahnya bukti sejarah otentik yang ditemukan meski telah dilakukan berbagai penelitian mendalam.
“Karena bukti sejarahnya tidak kuat, akhirnya para sesepuh dan sejarawan mengambil jalan kesepakatan dengan perhitungan yang sangat rumit. Hasilnya kemudian dituangkan dalam klausul Peraturan Daerah,” imbuh Rabadi.
Upaya penelusuran sejarah Pemalang sendiri, lanjut Rabadi, telah dilakukan selama bertahun-tahun, bahkan hingga ke Belanda. Sejumlah penelitian arkeologis juga dilakukan dengan menggali berbagai situs kuno, seperti Situs Plawangan di barat Kota Pemalang, Pemandian Moga, hingga situs bersejarah di Desa Sima. Namun, hasilnya belum mampu menghadirkan bukti kuat tentang titik awal berdirinya kota.
Kesulitan menemukan saksi sejarah inilah yang akhirnya melahirkan konsensus para sejarawan untuk menetapkan 24 Januari sebagai hari jadi Kota Pemalang.
Kini, menjelang peringatan usia ke-451, muncul kembali pertanyaan besar di tengah masyarakat:
Apakah penggalian sejarah Pemalang akan terus dilanjutkan demi menemukan kebenaran historis yang lebih kuat, ataukah 24 Januari akan tetap diterima sebagai hari jadi berdasarkan kesepakatan yang telah ada?
Perdebatan ini menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan ruang refleksi untuk memahami jati diri sebuah kota dan peradabannya.(Ragil)


Posting Komentar