Muda Mandalika Beri "Rapor Merah" untuk Tata Kelola Pariwisata Lombok Timur
LOMBOK TIMUR, MediaEkspresi.id - Komunitas pemuda yang tergabung dalam Muda Mandalika melayangkan kritik tajam terhadap performa sektor pariwisata di Kabupaten Lombok Timur. Dalam pernyataan resminya, mereka memberikan "rapor merah" atas serangkaian persoalan mendasar yang dinilai menghambat kemajuan pariwisata daerah.
Koordinator Muda Mandalika menegaskan bahwa meski Lombok Timur dianugerahi potensi alam yang luar biasa, efektivitas pengelolaannya saat ini masih jauh dari harapan.
"Lombok Timur memiliki potensi wisata yang luar biasa, tetapi pengelolaannya masih menyisakan banyak persoalan. Kami melihat ada rapor merah yang harus segera diperbaiki secara total," tegasnya.
Soroti Pengambilalihan Destinasi dan Inisiatif Lokal
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kebijakan pengambilalihan sejumlah destinasi wisata strategis yang sebelumnya dirintis dan dikelola oleh masyarakat lokal. Beberapa lokasi yang menjadi catatan antara lain, kawasan sembalun (SLL), bale mangrove dan bukit kayangan
Muda Mandalika menilai, langkah pengambilalihan tanpa pola kemitraan yang transparan berisiko mematikan kreativitas dan semangat kewirausahaan warga setempat.
"Banyak destinasi berkembang justru dari inisiatif akar rumput. Jika dikelola secara sepihak tanpa sinergi yang jelas, pemerintah justru berisiko membunuh inovasi masyarakat yang selama ini menjadi penggerak utama," tambahnya.
Pungli dan Insiden Pengusiran Wisatawan
Selain masalah manajerial, Muda Mandalika juga menyoroti isu keamanan dan kenyamanan yang merosot. Dua insiden utama yang menjadi sorotan adalah:
1. Dugaan Pungutan Liar (Pungli): Praktik tidak resmi di kawasan Rest Area Sembalun yang dinilai merusak citra keramahan daerah.
2. Insiden Ekas: Pengusiran wisatawan mancanegara saat beraktivitas surfing yang sempat viral.
Menurut mereka, insiden di Ekas merupakan preseden buruk yang mencoreng reputasi internasional Lombok Timur sebagai destinasi ramah turis. "Wisatawan harus merasa aman dan nyaman. Kasus pengusiran seperti itu seharusnya tidak memiliki tempat di daerah yang ingin maju secara pariwisata," jelasnya.
Desakan Evaluasi Menyeluruh
Muda Mandalika juga mencatat adanya aset-aset wisata yang terkesan mangkrak dan tidak terurus. Kurangnya pengembangan yang berkelanjutan menunjukkan lemahnya koordinasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku industri.
Sebagai penutup, komunitas ini mendesak Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tata kelola pariwisata. Mereka berharap kritik ini menjadi pemantik perbaikan agar pariwisata benar-benar mampu menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.
Reporter: Kucay22
.jpg)
Posting Komentar