Jelang Idulfitri 1447 H: Harga Melati Melambung, Petani di Pemalang Justru Terpukul Banjir
PEMALANG, MediaEkspresi.id – Memasuki tiga pekan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah, geliat pasar bunga melati di Kabupaten Pemalang menunjukkan tren yang kontradiktif. Di tengah meroketnya permintaan dan harga di tingkat konsumen, para petani melati justru harus gigit jari akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir tersebut.
Berdasarkan data per Februari 2026, permintaan bunga melati, baik untuk kebutuhan bunga tabur ziarah maupun ronce pengantin, mengalami peningkatan drastis. Aktivitas ziarah kubur yang menjadi tradisi turun-temurun masyarakat dalam menyambut Ramadan dan Lebaran menjadi pemicu utama melonjaknya omzet para pedagang.
Permintaan Tinggi dari Berbagai Kota Besar
Tak hanya untuk kebutuhan lokal, bunga melati asal Pemalang juga membanjiri pasar-pasar besar di luar daerah. Pesanan dilaporkan datang mengalir dari kota-kota besar seperti Semarang, Bandung, hingga Surabaya. Khusus untuk melati ronce, para perias pengantin mulai mengamankan stok sejak dini guna mengantisipasi tingginya angka pernikahan di bulan Syawal mendatang.
Lonjakan permintaan ini secara otomatis mengerek harga jual. Di tingkat petani, harga melati kini menyentuh angka yang fantastis.
"Banyak bakul (pedagang) yang langsung datang ke sini. Mereka berani beli dengan harga bagus, sampai Rp110.000 per kilogram. Kalau dijual ke agen atau pengepul biasanya jauh lebih murah," ungkap Diyah (30), salah seorang petani melati di Kecamatan Ulujami, Jumat (27/2/2026).
Gagal Panen Akibat Rendaman Banjir
Namun, senyum manis karena harga tinggi itu tidak dirasakan merata oleh seluruh petani. Ironisnya, saat harga melambung, banyak lahan melati di Pemalang yang justru tidak bisa dipanen. Faktor bencana alam menjadi penyebab utama kegagalan produksi tahun ini.
Diyah mengaku hanya bisa menjual sedikit melati karena kebun miliknya sempat terendam banjir beberapa waktu lalu. Hal senada juga dirasakan oleh Mulyono (60), petani melati lainnya. Ia menyebut Lebaran tahun ini tidak memberikan "panen cuan" seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Kebun melati saya habis kena banjir. Bahkan sampai hari ini, sisa lumpurnya masih setinggi lutut," keluh Mulyono dengan nada getir.
Kondisi ini menyisakan pilu bagi para petani di Ulujami. Di saat pasar sangat membutuhkan pasokan melati, mereka justru harus berjuang memulihkan lahan yang rusak diterjang air dan sisa material lumpur.
Reporter: Ragil

Posting Komentar