Densus 88 Polri Gelar Kegiatan Strategis Bertajuk "Parenting Ideologi" di Sekolah
Ekspresi JAKARTA BARAT – Direktorat Pencegahan (Ditcegah) Densus 88 Antiteror Polri menggelar kegiatan strategis bertajuk Parenting Ideologi di SMA Negeri 2 Jakarta, Taman Sari, Jakarta Barat, pada Selasa (13/1/2026).
Langkah ini diambil guna memperkuat peran orang tua sebagai garda terdepan dalam melindungi pelajar dari ancaman paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), terutama yang bersumber dari ruang digital.
Kegiatan yang berlangsung di Jalan Gajah Mada ini diikuti oleh 50 perwakilan Komite Siswa/i. Kehadiran tim Densus 88 disambut langsung oleh Kepala SMAN 2 Jakarta, Ibu Setianingrum, beserta jajaran Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Sarana Prasarana, dan Kurikulum.
Dalam pemaparannya, narasumber dari Ditcegah Densus 88 AT Polri, IPDA Muhammad Audi Aqshal Afandi, S.Pd., menekankan bahwa di era teknologi saat ini, infiltrasi ideologi ekstrem tidak lagi hanya melalui pertemuan fisik, melainkan telah merambah ke media sosial hingga game online. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi filter utama bagi anak.
“Orang tua perlu memahami ciri-ciri awal anak yang mulai terpapar paham ekstrem, seperti perubahan sikap, ketertarikan pada konten kekerasan, hingga pola interaksi yang tertutup di dunia maya,” ujar IPDA Muhammad Audi Aqshal Afandi.
Melalui edukasi ini, para orang tua dibekali kemampuan teknis dan psikologis untuk mengenali tanda-tanda radikalisasi sejak dini. Selain meningkatkan kewaspadaan digital, orang tua didorong untuk terus menanamkan nilai-nilai toleransi dan ideologi kebangsaan sebagai fondasi karakter anak di rumah.
Pihak sekolah mengapresiasi penuh inisiatif ini. Sinergi antara sekolah dan orang tua dinilai menjadi kunci utama dalam memproteksi peserta didik dari pengaruh konten bermuatan kekerasan yang dapat merusak masa depan mereka.
Kegiatan Parenting Ideologi ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pencegahan radikalisme bukan hanya tugas aparat keamanan atau institusi pendidikan saja.
Keberhasilan dalam menangkal paham IRET justru berakar dari lingkungan keluarga sebagai ruang pendidikan pertama dan utama bagi anak.
Sumber : Divisi Humas Polri

Posting Komentar